311 Ribu UMKM Karawang Didorong Hilirisasi Sawit, Gen Z Dilatih Jadi Juragan
KARAWANG, –[pena exspres] Ampas sawit yang selama ini dibuang ternyata bisa jadi "ladang emas" baru bagi anak muda Karawang. Potensi itu yang dibongkar tuntas dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit di Karawang, 4-5 Juni 2026.
Digelar Majalah Sawit Indonesia dan disokong dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), workshop dua hari ini bukan sekadar pelatihan motivasi. Peserta langsung dibedah cara mengubah limbah sawit jadi oleofood, sabun, lilin aromaterapi, hingga pakan ternak yang laku di pasar.
Disentil Bupati: UMKM Jangan Cuma Nonton Pabrik
Meski Bupati Karawang Aep Syaepuloh berhalangan hadir karena menerima penghargaan di Yogyakarta, pesannya tegas dibacakan Kepala Dinkop UKM Karawang, H. Dindin Rachmadhy.
"Pak Bupati titip salam. Beliau gak mau anak Karawang cuma jadi penonton di kampung sendiri. Ada 1.789 pabrik dan 14 kawasan industri di sini. Masa UMKM kita gak kebagian kue-nya?" ucap Dindin membuka acara.
Sebagai bukti keseriusan, Dindin membeberkan anggaran pembinaan UMKM Karawang yang naik gila-gilaan. "Tiga tahun lalu masih Rp2,5 M. Tahun ini sudah Rp13 Miliar. Naik 5 kali lipat. Ini uang rakyat harus kembali ke rakyat dalam bentuk wirausaha," tegasnya.
PR Besar: Dari 311 Ribu UMKM, Baru Segelintir Naik Kelas
Dindin tak menampik Karawang punya PR besar. Dari 2,4 juta penduduk dan 1,3 juta angkatan kerja, tercatat ada 311.000 UMKM. "Itu yang terdata. Kalau sama yang belum daftar, bisa 400 ribu. Tapi yang benar-benar naik kelas, omzet ratusan juta, masih sedikit," akunya.
Karena itu, ia menyebut hilirisasi sawit sebagai "jalan tol" baru. Karawang selama ini hanya jadi daerah lintasan CPO. Padahal nilai tambah terbesar sawit justru ada di produk turunannya. "Kenapa gak kita bikin sendiri? Anak Gen Z jago TikTok, jago branding. Ini momentumnya," tambah Dindin.
Kurikulum "Cuan" dari BPDP: Dari Ampas Sampai TikTok
Pihak Majalah Sawit Indonesia menjelaskan, kurikulum workshop sengaja dibuat "nakal". Peserta tidak dicekoki teori kebun sawit. Tapi langsung praktik:
1.Bedah Produk: Ampas sawit jadi tepung kue gluten free. Limbah cangkang jadi arang briket.
2.Bedah HPP: Simulasi hitung modal. Ternyata oleofood dari sawit 30% lebih murah dari mentega impor.
3.Bedah Pasar: Cara dapat Sertifikat Halal, PIRT, dan tembus ke offtaker hotel & industri.
4.Bedah Cuan: Strategi konten "Storytelling Sawit" di TikTok & Shopee Live.
"Gen Z itu gak mau disuruh nanam sawit. Tapi kalau disuruh bikin brand skincare dari sawit terus viral, mereka semangat," kelakar salah satu pemateri dari BPDP.
Testimoni Peserta: Kaget Ampas Bisa Jadi Kue, Siti Nurhaliza, 22, pemilik usaha kue kering @DapurTehSiti, jadi salah satu peserta yang paling vokal. "Jujur saya syok. Selama ini beli butter mahal. Ternyata ada mentega dari sawit yang food grade, halal, dan rasanya enak. HPP kue nastar saya bisa turun 20%," katanya.
Ia mengaku sudah siap rebranding produknya jadi "Kue Sehat Berbasis Sawit". "Pas banget Gen Z sekarang peduli isu lokal & sustainability. Ini nilai jualnya," imbuhnya.
Target Dinkop: 1.000 UMKM Champion 3 Tahun
Dindin menegaskan workshop ini tidak akan berhenti jadi acara foto-foto. Pemkab, BPDP, dan Majalah Sawit Indonesia sepakat bikin program inkubasi lanjutan.
"Yang serius ikut workshop akan kami kurasi. Kami bantu urus NIB, PIRT, Halal, kemasan, sampai kita konekin ke 1.789 pabrik yang butuh suplier. Target kami, 3 tahun lahir 1.000 UMKM champion berbasis sawit," pungkas Dindin.
Langkah ini diklaim sejalan dengan visi "Karawang Maju dan Berkelanjutan". Jika 1.000 UMKM naik kelas dengan omzet Rp100 juta/bulan, maka ada perputaran Rp1,2 triliun per tahun di Karawang. "Pengangguran turun, PAD naik. Itu goalnya," tutup Dindin.
Workshop ini juga dihadiri akademisi dari Unsika, perwakilan Apkasindo, dan komunitas wirausaha muda Karawang.